IMG-LOGO

Persoalan Polusi Hingga Ssampah di Jakarta

Politik - 02 August 2019 15:22
IMG Gambar diambil dari Beritagar.id (27 Juni 2017)

DKI Jakarta seperti tidak memiliki persoalan yang pelik. Salah satu persoalan yang saat ini ramai diperbincangkan adalah polusi di Jakarta dan sampah. Persoalan ini sebetulnya sudah ada dari dulu, tetapi persoalan ini tidak kunjung selesai. Inilah salah satu alasan kenapa akhirnya Jokowi ingin memindahkan Ibu Kota dari Jakarta menuju salah satu wilayah di Kalimantan. Permasalahan sampah juga ramai diperbincangkan dijagad media.

 

Persoalan sampah di Jakarta ini menyeret nama Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Salah satu Wali Kota terbaik di Indonesia dalam persoalan pengelolaan Kota ini, namanya mencuat setelah salah satu Anggota DPRD DKI Jakarta Bestari Barus dari Nasdem mengkritik pengelolaan sampah di Jakarta memiliki anggaran sangat besar yaitu Rp 3,7 Triliun. Bestari membandingkan dengan pengelolaan sampah di Kota Surabaya yang hanya menggunakan Rp 30 miliar saja dan itu berhasil dalam pengelolaannya.

 

Bestari juga mengkritik pengelolaan sampah di Jakarta yang masih konvensional tanpa di olah terlebih dahulu dan hanya tinggal ditumpuk saja di Bantar Gebang. Awal kepemimpinan Anies sebagai Gubernur DKI Jakarta juga memiliki persoalan sampah di Bantar Gebang. Kasus ini hingga membuat Wali Kota Bekasi turun tangan, bahkan terjadi pertemuan antara kedua kepala daerah tersebut untuk menengahi persoalan sampah di Bantar Gebang ini.

 

Persoalan yang pelik ini memang perlu untuk belajar dengan kisah sukses pengelolaan sampah yang ada di salah satu wilayah di Indonesia. Bestari dalam menyeret nama Risma tidak hanya berbicara terkait anggara, melainkan juga terkait kesuksesan Risma dalam mengelola sampah di Surabaya. Dilansir dari laman Liputan 6.com (2 Agustus 2019), salah satu jurus Wali Kota Surbaya ini memiliki beberapa cara yaitu mendidik warga Surabaya untuk peduli terhadap lingkungan. Salah satu jurus ini digunakan Risma dalam penggunaan transportasi umum yaitu “Bus Surabaya” yang cara pembayarannya menggunakan Sampah.

 

Selain itu, Risma juga membangun 28 Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) sehingga hal ini bisa memangkas biaya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). TPST juga memiliki fasilitas pengelolaan sampah utamanya adalah sampah dijadikan produksi pupuk kompos. Inilah sebab alasan DPRD DKI Jakarta mengingatan kepada Pemprov DKI Jakarta untuk belajar dengan Bu Risma dalam pengelolaan sampah.

 

Tetapi, apabila melihat volume sampah di Jakarta dan Surabaya memang jelas berbeda. DKI Jakarta memiliki penduduk ± 10,4 Juta Jiwa, sedangkan Kota Surabaya hanya ± 3,07 Juta Jiwa. Jumlah penduduk yang jauh lebih banyak DKI Jakarta juga ditunjukkan dari volume sampah yang dihasilkan, DKI Jakarta 7.500 Ton/Hari sedangkan Kota Surabaya hanya 1.300 Ton/Hari. Perbedaan volume dan penduduk di Jakarta dan Surabaya jelas berbeda,  sehingga tidak bisa pengelolaan sampah dengan mudah diatasi oleh Bu Risma apabila memimpin DKI Jakarta.

 

Perlu kreatifitas dan keuletan memang dalam mengelola persoalan di suatu wilayah. Meskipun situasinya seperti ini, perlu juga Jakarta untuk belajar di Kota Surabaya dan menerapkan jurus dari Bu Risma apabila Pemerintah memang memiliki keseriusan dalam mengatasi persoalan sampah ini.. Apalagi TPST Bantar Gebang tidak berada didalam wilayah DKI Jakarta dan penuhnya volume sampah di DKI juga membuat TPST Bantar Gebang tidak mampu lg menampung Sampah DKI Jakarta.

 

Persoalan sampah belum juga selesai, Jakarta dihadapi persoalan yang lain yaitu Polusi Undara. Melalui laman tirto.id (2 Agustus 2019), penelitian yang dilakukan oleh Air Visual menunjukkan bahwa air quality index (AQI) di Jakarta tanggal 26 Juli 2019 pada pukul 08.53 menunjukkan angka mencapai 184, kandungan polusi PM2,5 sebesar 119,8 mikrogram/m³.

 

Senin, 29 Juli 2019 menunjukkan kenaikan kondisi udara di Jakarta, AQI berada di angka 189, kandungan polusi PM2,5 sebesar 129,9 mikrogram/m³. Kondisi ini menujukkan bahwa DKI Jakarta menempati posisi pertama terburuk di dunia terkait kondisi udara. Bahkan pada bulan Juni kondisi ini tidak banyak berubah dan masih menempati posisi pertama terburuk di dunia.

 

Upaya memang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta dalam mengatasi masalah polusi ini, salah satunya adalah dengan mensosialisasikan transportasi masal yang ada di Jakarta. Selain itu perluasan ganjil genap di Jakarta juga menjadi wacana dalam mengatasi persoalan ini. Tetapi upaya ini masih juga tetap belum bisa mengatasi permasalahan polusi di Jakarta.

 

Kompleksnya permasalahn di Jakarta terutama terkait kondisi udara dan lingkungan memang karena kurangnya ruang terbuka hijau yang dimiliki oleh Jakarta. Hal ini memang ditambah persoalan lain yang sampai sekarang juga belum selesai yaitu Banjir dan Kemacetan. Berbeda dengan Kota Surabaya yang secara pengelolaan ruang terbuka hijau cukup baik, sehingga persoalan kondisi udara dan lingkungan bisa teratasi. Dengan kondisi seperti ini, memunculkan wacana dalam pemindahan Ibu Kota sepertinya memang harus dilakukan.

Authors

Write SU

Baca Juga

IMG
Subscribe

Get all latest content delivered to your email a few times a month.